SEJARAH DESA BRAYO KEC. WONOTUNGGAL KAB. BATANG

Pada jaman dahulu konon hiduplah seorang yang bernama “ Kyai EMBO “ yang hidup sebagai petani ( penggarap sawah ). Guna memenuhi kebutuhan air persawahan ( pertanian ) maka Kyai Embo bermaksud membuat saluran air yang bersumber dari kali Lojahan.
Sebelum dimulai pembuatan saluran, Kyai Embo bertapa untuk memohon kekuatan dan petunjuk pada Sang Hyang Widi ( Sang Pencipta Alam ). Dalam melakukan pertapaan Kyai Embo mendapat pengawasan dari Kyai Singoranu. Dikarenakan dalam bertapa Kyai Embo tidak pernah berbaring, maka oleh Kyai Singoranu di beri julukan ” Kyai KOROJONGGOL ” ( yang sampai sekarang meninggalkan patilasan yang terkenal dengan Makam Korojonggol, dan belakangan ini di ketahui sebagai makam Syeh SYARIF ABDURROHMAN dan oleh masyarakat Desa Brayo makam tersebut dirawat dan dilaksanakan Khoul Masal setiap satu tahun sekali pada tanggal 12 Dzulhijah. )
Setelah menyelesaikan pertapaan maka Kyai Embo mulai membuat saluran yang dimulai dari bawah. Setelah pekerjaan itu hampir selesai terjadi persengketaan dengan orang-orang dari utara ( sekarang desa Kreyo ) karena berebut untuk mengambil air dari sumber kali lojahan dalam satu tempat yang sama.

Foto Makam Mbah Korojonggol

Persengketaan antara Kyai Embo dan orang-orang dari utara dapat di damaikan oleh Kyai Sarinten karena itu terjadi di daerah Kyei Sarinten. Yang akhirnya dibuat saluran bersama, dan saluran tersebut diberi nama saluran ” BRAYO ” dari kata ” Brayan ” ( bareng-bareng ). Maka sejak itulah desa ini terkenal dengan nama ” DESA BRAYO ”

Facebook Comments

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan